OASEksplorasi 2019 Desaku Indosiaku

“Kamar mandinya ada kaya celah gitu, kalau mandi suka ada ayam atau kucing masuk, airnya kadang ada kadang ngga, kemarin ikut bapak ke kebun dan diajarin pakai senapan angin buat basmi hama'”

“Nah, gimana rasanya tinggal di desa? Apakah ada rasa ingin cepat pulang?”

“Nggak kak, .. fasilitas di kota memang lebih enak sih, tapi udara disini enak banget, makanannya juga enak, kelapanya seger habis dipetik langsung minum sambil duduk-duduk di saung, main di sungai dan tangkap ikan di kolam ikan seru, aku sih ngga ada rasa ingin cepat pulang kak”

IMG_7490

Photo by  Ceca

Memperkenalkan kehidupan di desa dan bagaimana kesehariannya adalah tema dari pembelajaran kegiatan eksplorasi 2019 pramuka OASEksplorasi , program “Live in” selama lima malam di dusun Sukajadi, desa Hegarmaneh, kec. Cidolog, kabupaten Ciamis adalah Big Trip pencapaian setelah melalui berbagai tantangan selama tiga bulan.

Sementara adik-adik usia 11-14 tahun menginap di rumah warga, kami para mentor yang biasa dipanggil  “kak”  adalah Kak Anne, Kak Raken, Kak Andit, Kak Ayu, Kak Anggia dan saya sendiri Kak Kristin tinggal di saung Kampung Zuhud alias Kazu. Setiap usia sholat Subuh dan Maghrib mereka mendatangi kami untuk bercerita bagaimana kegiatan mereka pada hari itu.

IMG-20191115-WA0003.jpg

photo by Kak Andit

Mengajak mereka untuk peka dari mana asalnya sumber air di rumah keluarga yang mereka tempati menjadi salah satu pembelajaran. Bahkan tidak hanya sekedar mendapatkan informasi tentang keberadaan sumber air, tapi juga belajar bagaimana prosesnya mencari informasi ini dari keluarga inang atau warga, apa yang mereka lakukan untuk mendapatkan informasinya? Hambatan apa yang mereka temui selama proses “live in”?

“Kamu udah tau belum air yang kamu pakai untuk mandi dari mana?”

“Dari keran”

“Nah, air yang keluar dari keran dari mana datangnya? Gimana caranya bisa keluar air dari keran?”

Inilah salah satu obrolan kami ketika jam temu cerita, mereka mengeksplor sendiri  tantangan-tantangan yang mentor berikan. Setiap kelompok anak berbeda-beda ceritanya, ada yang beruntung tidak kekurangan air dan tersedia air mengalir dari keran, ada juga yang harus menimba dan bahkan ada yang kekeringan sumurnya sehingga mereka harus mandi di MCK umum.

Dari sepotong jalan cerita ini semoga mereka mendapatkan pembelajaran empati, misalnya dari cerita air ini, bahwa air yang mereka dapatkan untuk kebutuhan tidak semudah memutar keran air. Ketika air terbatas, apa yang harus dilakukan? Mereka menghemat dan berusaha tidak mengeluh. Pada saat itulah secara tidak langsung mereka belajar pengelolaan diri.

Selain mereka menjalankan tantangan-tantangan mencari data tentang keluraga dan lingkungan, tidak terasa nilai-nilai dasar kehidupan turut diaplikasikan dan disesuaikan dengan masalah apa yang sedang terjadi di depan mata. Menjadi mandiri dengan sesimpel mampu mengurus diri sendiri akan sangat membantu kelancaran menyelesaikan berbagai hal yang sedang terjadi di sekitar.

Belajar adaptasi, ketika adik-adik mampu menyesuaikan diri dengan konflik yang ada dari dalam diri maupun luar adalah hal sangat luar biasa, daya tahan menjadi ujian mereka untuk melalui semua hal yang sedang mereka hadapi, ada yang luka ringan dan kaki keram karena aktivitas keseharian, tidak nyenyak tidur karena keterbatasan fasilitas, terpeleset di kolam dan merasa sakit tulang ekornya, demam karena lupa menjaga kesehatan diri karena saking asiknya bermain. Berbagai masalah ini mereka utarakan dan tentunya menjadi refleksi bagi diri mereka sendiri dan tentunya mentor.

Bekerja sama mencari dan mengumpulkan kayu bakar untuk masak, turut membantu warga membuat 150 kue bolu kukus untuk hajatan, mencuci bersama-sama, mengepel rumah inang dengan kain pel sambil jongkok adalah beberapa contoh belajar kerjasama adik-adik, berperan aktiv dan memberikan manfaat untuk sekitar saat itu, dimulai dari hal yang sederhana membuat suasana lingkungan menjadi semakin hangat.

Nilai-nilai kehidupan ini adalah skill dasar dan tidak mudah untuk dijadikan bahan ajar teori. Nilai-nilai inilah yang menjadi perhatian kami dalam menjalankan kegiatan eksplorasi “live in” selama lima malam di delapan keluarga warga lokal, ada satu rumah yang kebagian dua anak dan empat anak, kemudian lima rumah lainnya kebagian masing-masing tiga anak.

Mendadak anggota keuarga warga dusun sukajadi bertambah beberapa anak dan bersedia menampungnya beberapa malam, hal ini bukan perkara mudah bagi yang menerima keberadaan anak-anak untuk tinggal di rumahnya, bersyukur sekali kami mendapatkan kesempatan ini berkat kelapangan hati Abah Apep dan Ambu Yohana untuk membantu segala kelancaran prosesnya, semoga kampung Zuhud selalu berlimpah rizki serta Abah dan Ambu selalu diindahkan cinta dan kasih sayang dalam keluarga dan persahabatan.

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

photos by kak Anne

 

photos by all mentor

selama lima hari adik-adik menjelajah kehidupan kekeluargaan di desa dengan mengeksplor sendiri, dan benar-benar merasakan bagaimana keseharian kehidupan orang desa telah dilalui dengan penuh sukacita. Mengaplikasikan hal yang sederhana adalah awal pembuka jalan untuk menjadikan hal yang bermanfaat terus bertumbuh, semoga perjalanan ke desa ini menjadi bagian dari pencarian jati diri.

 

photos by all mentor

Desaku yang ku cinta adalah paru-parunya Indonesia. Semoga peradaban desa-desa di Indonesia tetap terpelihara kearifan lokalnya. Hidup Desa!! Hidup Indonesia!!

pemandangan dari saung tempat tinggal mentor

view dari saung tempat tinggal mentor

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s